Mantan Pembalap yang Kemudian Menjadi Pemimpin di Tim MotoGP dan Formula 1
Dalam dunia balap, tidak sedikit mantan pembalap yang melanjutkan kariernya di balik layar. Mereka tidak lagi memegang setang motor atau setir mobil, melainkan memimpin sebuah tim sebagai manajer, direktur, hingga pemilik. Pengalaman mereka sebagai pembalap memberi sudut pandang unik dalam mengelola tim, membuat keputusan teknis, hingga memahami psikologi para rider maupun driver. Berikut adalah kisah para mantan pembalap yang kemudian sukses menjadi pemimpin di ajang MotoGP dan Formula 1.
- Dari Trek MotoGP ke Kursi Manajer
1. Massimo "Max" Biaggi (Max Racing Team)
Legenda MotoGP asal Italia ini memang tidak langsung menjadi manajer tim pabrikan, namun ia mendirikan tim di ajang balap motor kelas bawah, terutama di Moto3. Dengan segudang pengalaman empat kali juara dunia kelas 250cc, Biaggi mampu membimbing talenta muda untuk meniti karier ke MotoGP.
2. Nicolas Goyon (Tech3 KTM)
Goyon awalnya seorang pembalap di level nasional Prancis sebelum banting setir ke dunia teknis. Ia kemudian berkembang menjadi salah satu otak penting di tim Tech3, hingga akhirnya dipercaya menjadi Team Manager Tech3 KTM Factory Racing. Latar belakangnya sebagai pembalap membuatnya piawai dalam menjembatani komunikasi antara rider dan teknisi.
3. Wilco Zeelenberg (WithU RNF, eks Yamaha)
Zeelenberg adalah mantan pembalap GP 250cc dan Supersport. Setelah pensiun, ia beralih menjadi manajer tim di MotoGP. Ia terkenal karena pernah menjadi "Rider Coach" Jorge Lorenzo saat meraih gelar juara dunia MotoGP. Ia pernah aktif memimpin tim RNF Racing (sebelum tim ini beralih status), dan menjadi sosok penting dalam pengembangan pembalap.
- Dari Balapan Formula ke Pucuk Pimpinan F1
1. Toto Wolff (Mercedes-AMG Petronas F1 Team)
Sebelum menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh di F1, Toto Wolff adalah seorang pembalap di kejuaraan Formula Ford dan GT. Karier balapnya memang tidak segemilang karier manajemennya, tetapi pengalaman di lintasan membuatnya memahami detail strategi. Kini, sebagai Team Principal Mercedes, Wolff berhasil membawa timnya mendominasi era turbo-hybrid bersama Lewis Hamilton dan Nico Rosberg.
2. Christian Horner (Red Bull Racing)
Christian Horner mengawali kariernya sebagai pembalap di Formula 3000. Namun, ia cepat menyadari bahwa potensi terbesarnya ada di bidang manajemen. Horner lalu mendirikan tim Arden International, yang sukses di ajang junior. Sejak 2005, ia menjadi Team Principal Red Bull Racing, dan hingga kini membawa tim tersebut meraih berbagai gelar juara dunia.
3. Alain Prost (Eks Renault F1 Team)
Empat kali juara dunia F1 asal Prancis ini pernah mencoba peruntungan sebagai pemilik dan manajer tim F1, Prost Grand Prix, pada akhir 1990-an. Meski tim tersebut akhirnya gulung tikar karena masalah finansial, Prost tetap dikenang sebagai salah satu pembalap yang berani melangkah ke dunia kepemimpinan di F1.
4. Niki Lauda (Mercedes F1, Eks Ferrari dan McLaren)
Niki Lauda, legenda F1 asal Austria, tidak hanya dikenal karena tiga gelar juara dunianya, tetapi juga kontribusinya sebagai manajer dan penasihat tim. Ia pernah menjadi Team Principal Ferrari dan Jaguar, kemudian berperan besar dalam kesuksesan Mercedes saat kembali ke F1. Lauda dikenal sebagai sosok yang mampu menggabungkan pengalaman balap dengan visi bisnis yang kuat.
- Mengapa Banyak Mantan Pembalap Menjadi Pemimpin Tim?
Ada beberapa alasan mengapa mantan pembalap cocok menduduki posisi penting di tim MotoGP maupun Formula 1:
Pengalaman langsung di lintasan: Mereka tahu bagaimana rasanya berada di kokpit atau di atas motor.
Komunikasi dengan rider atau driver: Mereka bisa menjadi jembatan efektif antara pembalap dan teknisi.
Mentalitas kompetitif: Jiwa kompetitif yang dulu dimiliki sebagai pembalap kini diterapkan dalam strategi tim.
Networking: Mantan pembalap biasanya memiliki jaringan luas di dunia balap, memudahkan kerja sama dengan sponsor, pabrikan, maupun federasi.
Mantan pembalap yang menjadi pemimpin tim menunjukkan bahwa karier di dunia balap tidak berhenti ketika helm digantungkan. Dari MotoGP hingga Formula 1, mereka membuktikan bahwa pengalaman di lintasan bisa menjadi modal berharga untuk membawa tim menuju kemenangan. Peran mereka di balik layar sering kali sama pentingnya dengan para pembalap yang bertarung di lintasan.
Photo : @christianhorner